<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/21969743?origin\x3dhttps://rucknraw.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

ruck n raw

Wednesday, November 21, 2007

inggris kalah

posted by dq @ 1:05 PM  
hahaha...inggris kalah....








rucknraw.wordpress.com

Wednesday, November 14, 2007

MAAF ATAS NAMA PENGALAMAN

posted by dq @ 6:27 AM  



oleh
Pramoedya Ananta Toer
REPRODUCED FROM MAJALAH PROGRES, No. 2, 1992. Sudah terbit.

Sejak 17 Agustus 1945 aku menjadi warganegara Indonesia,
sebagaimana halnya dengan puluhan juta orang penduduk Indonesia
waktu itu. Waktu itu umurku 20. Tetapi aku sendiri berasal dari
etnik Jawa, dan begitu dilahirkan dididik untuk menjadi orang
Jawa, dibimbing oleh mekanisme sosial etnik ke arah ideal-ideal
Jawa, budaya dan peradaban Jawa. Kekuatan pendidikan yang
dominan dan massal adalah melalui sastra, lisan dan tulisan,
panggung, musik dan nyayian, yang membawakan cuplikan-cuplikan
dari Mahabharata: sebuah bangunan raksasa yang terdiri dari
cerita falsafi dan tatasusila, acuan-acuan religi, dan dengan
sendirinya resep-resep sosial dan politik. Enerzi, dayacipta,
pergulatan, telah dikerahkan berabad, melahirkan candi-candi dan
mythos tentang para raja yang sukses, dan mendesak dewa-dewa
setempat menjadi dewa-dewa kampung. Untuk itu "jutaan" manusia
sepanjang sejarah etnikku terbantai. Tentu saja tidak angka
resmi bisa ditampilkan. Yang jelas, sejalan dengan pendapat
pakar Cornell, Ben Anderson, klimaks Mahabharata adalah "mandi
darah saudara-saudara sendiri". Memang pada jamannya sendiri
bangsa-bangsa lain juga pernah mengalami peradaban dan budaya
'kampung' demikian. Yang berhasil keluar dari kungkungannya,
jadilah bangsa yang merajai dunia.

Pada awal abad 17 masyarakat Belanda menghimpun dana untuk
membiayai pelayaran-pelayaran mencari rempah-rempah, melintasi
sejumlah samudra dan menghampiri sejumlah benua. Di negeriku,
beberapa belas tahun kemudian, tepatnya pada 1614, raja Jawa
yang paling kuat dan berkuasa, raja pedalaman, generasi kedua
dan raja ketiga Mataram, Sultan Agung, justru menghancurkan
negara bandar dagang Suarabaya, hanya karena membutuhkan
pengakuan atas kekuasaannya. Ironi histori Jawa termaktub di
sini: pada waktu Belanda mengelilingi dunia mencari
rempah-rempah, Surabaya suatu bandar transit rempah-rempah yang
sama untuk konsumsi internasional dihancurkan oleh seorang raja
pedalaman Jawa, Sultan Agung.
Mataram sendiri adalah kerajaan kuat kedua di Jawa yang
menyingkiri laut karena tidak ingin menghadapi kedahsyatan
Portugis di laut. Sultan Agung ini juga yang gagal total
menghalau koloni kecil Belanda di Batavia pada 1629. Kekalahan
itu membuat Mataram kehilangan Laut Jawa, laut pelayaran
internasional pada masanya. Untuk menghilangkan malu yang
diderita, untuk memperthankan kewibawaan Mataram, para pujangga
etnik Jawa berceloteh, bahwa pendiri Mataram, ayah Sultan Agung,
mempersunting puteri Laut Selatan (pulau Jawa), Nyi Roro Kidul.
Untuk menyatakan, kata Prof. H. Resink, bahwa Mataram masih
punya keterlibatan dengan laut.
Dalam kronik etnik Jawa, Sultan yang satu ini diagungkan begitu
tinggi dengan membuang segala faktor yang memalukan. Juga dalam
pengajaran sejarah dalam Republik Indonesia sekarang. Orang akan
membelak bila mengikuti materi tertulis orang Barat tentang dia.
Sedang pendiri Mataram, Sutawijaya, dengan dalih ingkar janji
sebagai didendangkan oleh para pujangga etnik Jawa, marak jadi
raja setelah membunuh ayah angkat yang membesarkannya, yang
memberinya fasilitas sebagai seorang pangeran. Kronik yang
diwariskan pada kami tidak pernah ada yang menyinggung tentang
nurani, yang nampaknya memang tak terdapat dalam pembendaharaan
bahasa Jawa.
Diawali dengan kekalahan Sultan Agung, hilangnya kekuasaan atas
jalur dagang di L. Jawa, beroperasinya kapal-kapal meriam Barat,
golongan menengah Jawa, yang senyawa dengan pemilikan kapal dan
pedagang antar-pulau serta internasional terhalau dari
bandar-bandar dan tergiring ke pedalaman, menjadi mundur, dan
terjatuh dalam kekuasaan satria pedalaman dan ikut mundur.
Namun para pujangga pengabdi sistim kekuasaan, menyingkirkan
kenyataan yang menggejala ini. Setelah Sultan Agung marak,
Mataram ke 4 justru bersahabat dengan Belanda. Para pujangga
tetap tidak mengambil peduli. Nyai Roro Kidul, justru dibakukan
sebagai kekasih setiap raja Mataram, generasi demi generasi,
dikembangkan kekuasaannya sedemikain rupa sehinggga menjadi
polisi. aneh tapi nyata bahwa semua ini terjadi sewaktu Jawa
praktis mulai memeluk Islam. Penyebaran agama baru ini tidak
disertai peradabannya sebagaimana halnya dengan hindusisme,
karena praktis sebgai akibat sekunder dari terhalaunya para
pedagang Islam dari jalur laut oleh kekuatan Barat yang Nasrani,
kelanjutan dari penghalauan atas kekuasaan Arab di Semenanjung
Iberia. Dapat dikatakan penyebaran Islam di Jawa adalah akibat
sekunder dari gerakan Pan-Islamisme internasional pada jamannya.
Lebih mengherankan lagi bahwa pada waktu tulisan ini dibuat,
Nyai Roro Kidul telah dianggap menjadi kenyataan. Sebuah hotel
di pantai selatan Jawa Barat menyediakan kamar khusus untuk Dewi
Laut Selatan tersebut. Bagaimana bisa terjadi suatu negara yang
berideologi Pancasila, dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai
silanya yang pertama menerima kehadiran seorang dewi laut,
kekasih para raja Mataram. Para pujangga tidak pernah teringat
bahwa dengan kekuasaan tanpa batas Dewi Laut Selatan, Mataram
tidak pernah menang dalam konfrontasinya dengan kekuasaan Barat
yang datang dari ujung dunia.
Sejak kegagalan Sultan Agung, Jawa tetap terkungkung dalam
peradaban dan budaya 'kampung', ditelan mentah-mentah oleh
Belanda selama 3 1/2 abad. Sungguh tragi-komedi yang mengibakan.
Sedang Belanda datang hanya dengan kekuatan sebiji sawi, bangsa
berjumlah kecil, negeri kecil, di ujung utara dunia, setelah
melintasi Samudera Atlantik, Hindia, Pasifik. Juga dalam perut
kekuasaan Belanda, Jawa tetap memuliakan peradaban dan budaya
'kampung'nya dengan klimaks 'kampung'nya: "mandi darah
saudara-saudara sendiri", sampai 1965-66. .... Dan karena sudah
tidak dalam perut kekuasaan Eropa lagi, jelas pembantaian
mencapai skala tanpa batas.
Penjajahan Belanda, ataui Eropa, atas negeriku telah banyak
meredam klimaks-klimaks ini. Tanpa penjajahan, negeriku akan
tiada hentinya mencucukan darah putera-puterinya. Perebutan
tempat kedua setelah Belanda dalam kekuasaan administrasi di
Jawa dalam pertengahan abad 18, yang konon mengucurkan
seperempat dari jumlah penduduk wilayah kerajaan Jawa. Sedang
seorang pangeran yang mendapat tempat ketiga setelah Belanda,
Mangkunegara I, baru-baru ini malahan diangkat menjadi pahlawan
nasional. Maka itu seorang wisatawan mancanegara yang mempunyai
pengetahuan tentang Jawa dan Indonesia akan mengangguk mengerti
mengapa dalam tahun 80-an menjelang akhir abad 20 ini patung
para Satria Pandawa berangkat perang naik kereta perang di Jalan
Thamrin, Jakarta. Itulah patung dalam babak klimaksnya
Mahabharata, "mandi darah saudara-saudara sendiri".
Dalam penjajahan selama 3 1/2 abad kekuatan etnikku tidak pernah
menang menghadapi kekuatan Eropa, di semua bidang, terutama
bidang militer. Para pujangga dan pengarang Jawa, sebagai bagian
dari pemikir dan pencipta dalam rangka peradaban dan budaya
'kampung' menampilkan keunggulan Jawa, bahkan dalam menghadapi
Belanda, Eropa, Jawa tidak pernah kalah. Cerita-cerita
masturbasik yang dipanggungkan, juga yang tertulis, juga cerita
lisan dari mulut ke mulut, menjadi salah satu penyebab aku
selalu bertanya: mengapa etnikku tidak mau menghadapi kenyataan?
Sedikit pengetahuan yang kudapatkan dari sekolah dasar dan
sedikit bacaan dari literatuir Barat, mula-mula tanpa kusadari,
makin lama makin kuat, membuat aku melepaskan diri dari
peradaban dan budaya 'kampung' asal etnikku sendiri. Sekali lagi
maaf. Di luar Jawa pernah suatu kekuatan etnik menang mutlak
atas Eropa. Itu terjadi di Ternate pada 1575. Portugis diusir
dari bentengnya dan menyerah. Karena ini tidak terjadi di Jawa,
tentara yang menyerah itu tidak dibikin mandi darahnya sendiri,
tetapi digiring ke pantai, diperintahkan menunggu sampai
dijemput armada Portugis. Dan karena terjadi jauh di luar Jawa,
di Maluku, tidak pernah disinggung dalam mata pelajaran sejarah
resmi sampai 1990 ini. Mungkin perlu waktu sampai seorang
peneliti asing menerbitkan karyanya. Atau mungkin sudah pernah
terbit hanya aku saja yang tidak tahu.
Sekiranya dahulu aku terdidik suatu disiplin ilmu, misalnya ilmu
sejarah, aku akan lakukan penelitian yang akan menjawab: mengapa
semua ini terjadi dan terus terjadi. Tetapi aku seorang
pengarang dan pendidikan minim, jadi bukan materi-materi
historis yang kukaji, tetapi semangat-semangatnya, yang kumulai
dengan tetralogi Bumi Manusia, khusus menggarap arus-arus yang
datang dan pergi dalam periode Kebangkitan Nasional Indonesia.
Dan jadilah kenyataan baru, kenyataan sastra, kenyataan hilir,
yang asalnya adalah hulu yang itu juga, kenyataan historis.
Kenyataan sastra yang mengandung di dalamnya reorientasi dan
evaluasi perdaban dan budaya, yang justru tidak dikandung oleh
kenyataan historik. Jadinya karya sastra adalah sebuah thesis,
bayi yang memulai perkembangannya sendiri dalam bangunan-atas
kehidupan masyarakat pembacanya. Dia sama dengan
penemuan-penemuan baru di segala bidang, yang membawa masyarakat
selangkah lebih maju.
Sengaja kuawali dengan thema Kebangkitan Nasional
Indonesia--yang walau terbatas di bidang regional dan nasional
namun tetap bagian dari dunia dan umat manusia--setapak demi
setapak juga kutulis pada akar historinya, yang untuk sementara
ini belum siap terbit, atau mungkin tidak akan bisa terbit.
Dengan demikian telah kucoba untuk dapat menjawab: mengapa
bangsaku jadi begini, jadi begitu. Maka juga aku tidak menulis
sastra hiburan, tidak mengabdi pada status quo, bahkan berada di
luar dan meninggalkan sistem yang berlaku. Akibatnya memang
jelas: dianggap menganggu status quo dalam sistem yang berlaku.
Dan karena menulis adalah kegiatan pribadi--sekalipun pribadi
adalah juga produk seluruh masyarakat, masa sekarang dan masa
lalunya--konsekwensinya pun harus dipikul sendirian. Dan kalau
ada simpati datang padanya, darimana pun datanganya, bagiku itu
suatu nilai lebih, yang sebenarnya tak pernah masuk dalam
hitunganku. Untuk itu tentu saja kuucapkan terimakasih.
Sebelum sampai pada tetralogi, telah kutulis sejumlah karya yang
semua bakalnya bermuara padanya. Dalam kurun ini pun sudah mulai
permusuhan dari kalangan yang pada masa itu sedang giat memburu
status quo. Dan mengherankan, bahwa pada mulanya karya-karya itu
disambut dengan cukup baik, bahkan beberapa kali malah
mendapatkan hadiah penghargaan. Terutama semasa demokrasi
terpimpin dalam tahun-tahun akhir 50-an dan paroh pertama 60-an
periode doktrin Trisakti--berdaulat di bidang politik, berdikari
di bidang ekonomi, berpribadi di bidang kebudayaan--suatu
doktrin universal bagi negara nasionalis di manan pun berada,
namun menjadi momok bagi negara-negara padat modal yang haus
ladang usaha di seluruh muka bumi. Sejarah mengajarkan banyak
tentang kekuasaan modal. Bangsa-bangsa merdeka diubah menjadi
bangsa kuli, orang-orang lugu dibentuk menjadi komprador,
pengangguran diubah menjadi pembunuh bayaran dengan sergam dan
tanda pangkat, rimba-belantara diretas-retas dengan
infrastrktur, kota-kota, pelabuhan, muncul dari tiada atas
perintahnya, tenaga kerja disedotnya dari mana saja,
sampai-sampai dari dusun yang tak pernah terdengar jelas
namanya. Pemerintah dari sekian banyak negara dibuatnya hanya
jadi pelaksana kemauannya, dan bila sudah tak dihekendakinya,
dijatuhkannya. Itu cerita yang membosankan, yang menjadi bagian
pengalaman banyak bangsa di dunia, dan pengalaman setiap orang
yang memikul akibatnya bersama-sama, baik yang mendapatkan
keuntungan darinya mau pun yang dirugikan olehnya. Dan setiap
pengalaman bagi seorang pengarang menjadi fondasi bagi proses
kreativitasnya, tak perduli pengalaman itu indrawi atau pun
batiniah.
Apakah Indonesia dengan kemerdekaannya akan menyesuaikan diri
dengan kekuasaan modal yang tidak berkebangsaan itu atau akan
menentangnya seperti selama itu dibuktikan dengan revolusi 1945?
Sudah sejak tahun-tahun revolusi, Soekarno menolak tawaran
monopoli dari Ford dengan imbalan pembangunan jalan raya
trans-Sumatra-Jawa. Dalam perkembangan semasa kemerdekaan
nasional, dia juga yang mengenyampingkan alternatif penyesuaian:
blok kapitalis dan blok komunis. Bukan suatu kebetulan bila dia
jugalah yang melahirkan istilah Dunia Ketiga. Apa pun keberatan
orang tentang sejumlah kelemahannya, jelas ia mempunyai faktor
intern keindonesiaan prima. Ia tak menghendaki negaranya menjadi
hemesphere blok mana pun. Dan Indonesia semakin terperosok dalam
kesulitan ekonomi. Dalam kesulitan ekonomi luar biasa ini aku
memberikan dukunganku, dan dengan sendirinya ikut mendapatkan
bagian dari kesulitan tersebut. Dukungan juga datang dari hampir
semua organisasi dan gerakan, termasuk gerakan yang mendukung
untuk menjatuhkan Soekarno. Dalam masa ini LEKRA mengangkat aku
jadi anggota plenonya. Orang bilang organisasi ini adalah
organisasi mantel PKI. Sampai sekarang pun aku masih heran,
mengapa apa saja yang bersangkutan dengan PKI dicap sebagai
sesuatu yang jahat. Yang jelas partai ini kontestan pemilihan
umum yang tampil sebagai salah satu pemenang, bukan partai
bandit tanpa idealisme. Artinya partai itu bukan kekuatan yang
sudah berkuasa dan menerapkan sistim kekuasaannya. Perlu
kukedepankan soal kekuasaan, karena yang ini cenderung membuat
orang jadi bandit, apalagi kalau puluhan tahun dipegangnya, dan
tanpa pernah berkenalan dengan semangat Verlichting, Aufklarung,
masih terkungkung dalam peradaban dan budaya 'kampung'.
Puluhan tahun sebagai warganegara Indonesia dengan tanah airnya
yang berupa jajaran gunungapi dan penduduknya yang berupa
sebaran gungapi lainnya, setiap waktu bisa meletus tanpa
pemberitahuan, membuat bawahsadar penuh sesak dengan pengalaman
indrawi dan batini.
Dalam penahanan selama 14 tahun 2 bulan, terampas dari semua dan
segala, semua pengalaman yang telah lalu aku renungkan dari
bawah larsa militer yang menginjakku. Semua menjadi lebih jelas,
bahwa semua itu hanya pengalaman alamiah belaka, suatu lingkaran
setan histori dari peradaban dan budaya 'kampung' tanpa
reorientasi ke dalam atau pun ke luar. Sedang kelahiran apa pun
yang dinamakan Orde Baru ini tidak lain dari ulangan kejadian
sejarah pada dasawarsa kedua abad 13, dimythoskan oleh pujangga
Jawa beberapa abad kemudian sebagai legenda Gandring.
Seorang pemuda, digambarkan sebagai berandalan, memesan keris
pada seorang empu keris bernama Gandring. Pemesan itu, Ken Arok,
membunuhnya sebelum keris itu usai. Tentu saja semua dilakukan
dengan rahasia. Senjata tajam itu secara rahasia pula
dipinjamkan pada Kebo Ijo, yang ke mana-mana pamer dengan keris
pinjaman, dan bertingkah seakan miliknya sendiri. Pada suatu
kesempatan Ken Arok mencurinya dan dengannya ia membunuh
penguasa Singasari. Kebo Ijo dihukum mati dan Ken Arok
menggantikan Tunggul Ametung sebagai penguasa. Empu Gandring,
sebelum menghembuskan nafas penghabisan, sempat menyatakan
kutukan: "Arok, anak dan cucunya, 7 raja, akan terbunuh oleh
keris itu!" Memang sejarah membuktikan beberapa raja terbunuh,
tidak sampai 7, namun pola dari kedua dasawarsa abad 13 tersebut
terjadi dan terjadi tanpa tercatat, dalam berbagai varian. Dan
dalam abad 20 ini, masih tetap di Jawa, Empu Gandring tersebut
menitis dalam di;-Soekarno, sang pandai Pancasila.
Anak desa Pangkur ini (sampai abad 20 di Jawa hanya ada satu
desa dengan nama ini, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi) tidak
pernah diberitakan mendapatkan pendidikan standard semasanya.
Yang diberitakan adalah ia putera Brahma, Ciwa, dan Wisnu
sekaligus. Yang jelas ia anak cerdik, pemberani, dan pandai.
Mungkin karena pendidikan standardnya minim, boleh jadi malah
nihil, dengan lindungan para dewa utama, dengan kekuasaan di
tangan, telah menutup babak Hindu Jawa dan mengawali babak Jawa
Hindu. Candi makam terbesar di Jawa Timur, Kagenengan, adalah
candi makamnya, sekalipun sekarang sudah tak ada sosok bentuknya
lagi.
Ken Arok abad ke 13 datang padaku waktu aku dalam pengasingan di
Buru. Tanpa Buru barang tentu ia takkan temukan aku, dan dia
akan tinggal terkerangkeng dalam legenda. Para dewa utama abad
13 itu masih tetap dewa utama abad 20, penguasa modal,
teknologi, informasi. Hanya, waktu kutulis kisah Arok dan Dedes
dalam pengasingan di Buru, penampilannya aku persolek dengan
tafsiran baru agar dapat keluar dari kerangkeng legenda.
Tentu saja akan ada yang tidak setuju dengan pikiran ini. Dan
memang aku tak mengharapkan persetujuan siapa pun. Sebaliknya
siapa pun dapat pikirannya masing-masing, apalagi kalau yang
bersangkutan tidak pernah diperlakukan seperti diriku, khususnya
10 tahun dibuang dan kerjapaksa di Buru. Seorang sesama
tapol--sudah tak teringat olehku siapa namanya--mengajukan
pertanyaan: apakah siklus Arok tidak bisa digantikan dengan
gambaran lain? Bisa, dan setiap orang bisa membuatnya untuk
dirinya sendiri bila punya perhatian, kepentingan dan kemauan,
asal tidak melupakan pola peradaban dan budaya 'kampung' yang
itu-itu juga, lingkaran setan, yang hanya bisa diputuskan oleh
reevaluasi atasnya, Verlichting, Aufklarung, yang menghasilkan
kreativitas yang menjebol plafonnya sendiri.
Tentu saja Orde Baru akan menanggapi dengan klisenya: itu
pembelaan untuk PKI. Itu hak Orde Baru untuk membela diri. Yang
jelas, pada masanya partai ini sah, legal, salah satu kontestan
pemenang dalam pemilu, dan karenanya juga mempunyai beberapa
orang menteri dalam kabinet. Dia takkan mengkup kemenangannya
sendiri. Kup cenderung dilakukan oleh partai yang kalah dalam
pemilu, bahkan tidak ikut pemilu.
Dr. J. Krom pernah menyatakan, bahwa petualangan Arok sebelum
berkuasa merupakan "schelman roman". Betul. Juga betul, bahwa
dalam konsep kekuasaan a la Jawa, dan mungkin juga pada bangsa
dari etnis-etnis lain di dunia dengan peradaban dan budaya
'kampung'nya, hanya kekuasaan adikodrati saja yang memungkinkan
sesuatu bisa terjadi, maka maraknya seseorang di singgasana
kekuasaan hanya terjadi dengan ridlanya. Ini satu lagi acuan
ideal-ideal dan peradaban Jawa tentang kekuasaan. Kekuasaan
adalah ridla Tuhan dan kalau sudah dicapai, jadilah ia orang
kedua sesudah Tuhan. Dengan kekuasaan, semua kejahatan akan
terbasuh, bahkan dibenarkan, halal. Selanjutnya menyusul
tulisan dan ucapan dari mereka yang ikut mendapatkan keuntungan
darinya.
Pernah didongengkan padaku semasa kecil, juga dari bacaan, bahwa
yang jahat akan dikalahkan oleh yang baik. Yang tidak pernah
didongengkan: yang baik dengan sendirinya juga akan dikalahkan
oleh yang jahat. Suatu mata rantai yang sambung-menyambung.
Kalau rangkaian itu tidak ada, tak tahu lagi orang mana yang
baik dan mana yang jahat. Suatu lingkaran setan yang tak
habis-habisnya.
Sebagai pengarang tentu saja dilontarkan padaku pertanyaan yang
tidak kalah klisenya: apakah akan menulis tentang masa sekarang?
Kan sudah banyak menulis tentang masa lewat yang sudah jadi
sejarah? Lagi pula yang sekarang toh juga sejarah, sejarah
kontemporer?
Memang banyak dan akan semakin banyak sarjana menerbitkan
penelitiannya tentang berbagai aspek Orde Baru. Mereka banyak
membantu kita dalam memahami banyak hal. tetapi sebagai pribadi
dan pengarang yang ikut memikul beban perubahan, aku
memandangnya dengan timbangan nasional. Era Soekarno dengan
Trisaktinya tak lain sebuah thesis. Orde Baru antithesis. maka
itu bagiku memang belum bisa ditulis, suatu proses yang belum
bisa ditulis secara sastra, belum merupakan suatu keutuhan
proses nasional, karena memang masih menuju pada sinthesisnya.
Masih di Buru, seorang wartawan Indonesia yang bertingkah-laku
sebagai jaksa, mengajukan pertanyaan, apakah aku tidak menaruh
dendam terhadap Orde Baru? Ini adalah proses nasional, bukan
urusan dendam pribadi. Apa yang kami ceritakan cuma pencerminan
tingkat peradaban dan budaya kita sendiri. Kemajuan dan
keanekaragaman teknologi, statistik pembangunan ataupun hutang
luar negeri, peningkatan infrastrukutr perhubungan dari warisan
kolonial, perusakan hutan dan paket banjir tahunan, semua
menduduki tempat sebagai rias antithesis dalam proses nasional.
Semasa kolonial, Belanda mengekspor pembunuh bayaran berbedil,
berseragam dan dengan pangkat-pangkat militer, untuk menaklukkan
dan mengendalikan luar Jawa dan Madura. Baru pada 1904, dan
sporadis sebelum itu, Belanda mengirimkan orang Jawa tanpa bedil
ke luar Jawa-Madura, tapi dengan pacul. Nampaknya kenal betul
peta demografis dan geografis Indonesia sehingga dapat menarik
kesimpulan klasik yang bisa diambil keuntungannya. Dan Belanda
nampaknya juga tahu, para penggantinya tidak akan dapat berbuat
lain kecuali meneruskannya; bukan lagi menduduki tempat sebagai
ria thesis atau pun antithesis, nampaknya sebagai kodrat yang
terbawa oleh kelahiran Indonesia.
Satu ironi lagi: Indonesia, yang secara politis dan
administratif dipersatukan oleh Soekarno tanpa pertumpahan
darah--sebuah fenomena khusus dalam sejarah umat manusia--harus
dipertahankan persatuan dan kesatuannya dengan tradisi kolonial,
yaitu dua macam export dari Jawa: pembunuh bayaran berbedil dan
orang Jawa berpacul. Dengan tradisi seperti itu, Indonesia
mempunyai cacat genetik yang parah. Semaoen--penasihat pribadi
Presiden Soekarno--pernah memberikan terapi untuk cacat genetik
itu: pindahkan ibukota keluar dari Jawa, ke Palangkaraya, di
Kalimantan Tengah. Tetapi Semaoen almarhum sudah tidak sempat
mengalami apa yang terjadi dengan hutan-hutan di Kalimantan
sekarang. Mengunyah masalah ini dalam sastra sudah pasti
membutuhkan waktu lama dan belum tentu memuaskan pengarang mau
pun pembacanya. Dan kondisi peradaban dan budaya 'kampung' akan
menempatkan pengarangnya jadi sasaran kekuasaan yang merasa
terancam kemapanannya. Tentu saja yang dimaksud adalah para
pengarang yang coba-coba membuat penilaian dan penilaian kembali
peradaban dan budaya 'kampung' yang telah memapankan selapisan
golongan atas dalam masyarakatnya. Juga para cendikiawan, juga
kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat yang telah cerah,
tetapi terutama adalah para pengarangnya, karena profesinya
tidak terikat pada sesuatu disiplin ilmu. Kepeduliannya pada
pengekspresian kesedaran dan bawahsadarnya pribadi, para
penguasa--artinya pembesar, bukan pemimpin--sibuk membuat kordon
penyelamat kemapanannya. Pengarang dengan demikian, sebagai
pribadi yang hanya punya dirinya sendiri, mendapatkan tekanan
terberat. Namun apa pun perlakuan yang ditimpakan padanya,
pengalaman pribadinya adalah juga pengalaman bangsanya, dan
pengalaman bangsanya adalah juga pengalaman pribadinya.
Sebagian, kecil atau besar atau seluruhnya, akan membuncah dalam
tulisan-tulisannya dan akan kembali pada bangsanya dalam bentuk
kenyataan baru, kenyataan sastra. Hakikat fiksi karenanya adalah
juga hakikat sejarah.
Apabila sebagai pengarang harus kutangguhkan begitu banyak
ketidakadilan di tanahair sendiri, penganiayaan lahir-batin,
perampasan kebebasan dari penghidupan, hak dan milik, penghinaan
dan tuduhan, bahkan juga perampasan hak untuk membela diri
melalui mass-media mau pun pengadilan, aku hanya bisa mengangguk
mengerti. Sayang sekali kekuasaan tak bisa merampas harga diri,
kebanggaan diri, dan segala sesuatu yang hidup dalam batin siapa
pun.
Kekuatiran akan terganggunya kemapanan, yang sejak masa kolonial
dikenal sebagai "rust en orde" dan diindonesiamerdekakan menjadi
"keamanan dan ketertiban" tidak jarang melahirkan
tuduhan-tuduhan menggelikan.
Baik sebelum mau pun selama di Buru dakwaan yang terus-menerus
disemburkan Orde Baru adalah: hendak mengubah Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 45, tanpa pernah mengajukan pembuktian.
Biasanya diucapkan di depan appel atau sewaktu santiaji alias
indoktrinasi. Salah satu sila dari Pancasila adalah Kemanusiaan
Yang Adil dan Beradab. Untuk ukuran kemanusiaan, tanpa tambahan
adil dan beradab pun, perlakuan mereka terhadap kami cukup
memuakkan, bahkan menjijikkan. Dakwaan merubah UUD? Pernah
sekali waktu seorang perwira aku dengar bersumbar: Timor Timur?
Uh, dalam dua hari bisa kami atasi. Dan benar, Timor Timur
kemudian dicaplok, bagian timur P. Timor yang tak pernah diklaim
oleh para pendiri Republik yang menyusun UUD 45 itu. Dari dua
dakwaan itu tanpa ragu membuat aku membikin kesimpulan: apa yang
dituduhkan itu justru apa yang mereka lakukan atau ingin
lakukan. Karena sejumlah kejadian cocok dengan kesimpulan,
kadang aku cenderung untuk menilainya sebagai rumus. Tapi
kemudian kuperlunak menjadi: apa yang terucapkan sebagai X
adalah minus X.
Dalam percakapan pribadi beberapa pejabat menyayangkan
keanggotaanku pada LEKRA. Jadi menurut gambaran orde Baru, LEKRA
adalah organisasi kejahatan. Sampai sekarang pun aku tak pernah
menyesal menerima pengangkatan sebagai anggota pleno LEKRA,
kemudian diangkat jadi wakil ketua Lembaga Sastra, dan salah
seorang pendiri Akedemi Multatuli, semua disponsori LEKRA.
Malahan aku bangga mendapat kehormatan sebesar itu, yang takkan
diperoleh oleh setiap orang, dan tidak mengurangi kebanggaanku
sekiranya benar ia organisasi mantel PKI. Semua itu sudah lewat,
tetapi belum menjadi sejarah, karena sebagai proses belum
menjadi kebulatan sinthetik. Pada waktu aku masih di Buru
ternyata orang pertama LEKRA dan orang pertama Lembaga Sastra
sudah lama bebas. Sekiranya aku bukan pengarang, boleh jadi
semua perlakuan yang menjijikkan itu tidak akan aku alami.
Tetapi pada segi lain, semua yang aku alami merupakan bagian
dari fondasi kepengaranganku untuk masa-masa mendatang,
sekiranya umur masih memungkinkan dan kesehatan fisik mau pun
mental masih bisa diandalkan.
X minus X memang membantu aku dalam memahami Orde Baru, yang
mereka anggap akan abadi dalam kebaruannya. Sebagai tapol
angkatan terakhir yang akan meninggalkan P. Buru, kami masih
harus melakukan korve membuat dua macam surat pernyataan sekian
salinan, menyatakan tidak akan menyebarkan Marxisme, Leninisme,
Komunisme, momok yang mereka bikin-bikin sendiri untuk menjadi
ketakutannya sendiri. Surat lain adalah pernyataan, bahwa
sebagai tapol kami telah diperlakukan secara wajar di P. Buru.
Secara hukum, surat-surat korve tersebut memang surat dagelan,
tetapi dengannya kami bisa membeli nomor untuk embarkasi ke
kapal yang berangkat ke Jawa. Betapa indahnya sekiranya
surat-surat korve itu tersimpan baik dalam arsif negara.
Kertas-kertas itu akan jadi bagian sejarah betapa sekian manusia
Indonesia telah membuat topeng dan jubah malaikat kesucian untuk
para penguasa dan kekuasaannya. Seorang pemimpin tidak
membutuhkan jubah dan topeng.
Di dermaga pelabuhan Namlea, di mana kapal "Tanjungpandan" sudah
siap mengangkut, 500 orang angkatan terakhir yang akan
diberangkatkan pulang ke Jawa sudah meninggalkan daratan.
Tinggal beberapa belas di antara kami, termasuk aku. Letkol
Lewirisa komandan kamp terakhir datang padaku dan bilang tanpa
ditanya tanpa diharapkan: "Pram, pelayaran akan langsung ke
Jakarta." Itu berarti X minus X, kami, rombongan beberapa belas
orang tidak menuju ke Jakarta. Baru kami boleh naik ke kapal dan
dikucilkan dari yang lain-lain.
Kamp kerja paksa yang kami tinggalkan semula dinamai Tefaat,
tempat pemanfaatan tenaga kerja kami, sisa hidup kami, dengan
harus membiayai hidup, perumahan, jaringan jalanan ekonomi dan
lingkungan, membuat sawah dan ladang dari padang ilalang dan
hutan, dan masih harus memberi makan para serdadu yang menjaga
kami, masih ditambah dengan pembunuhan terhadap sejumlah dari
kami. Menurut korve tulis, itu harus dinyatakan wajar. Juga
mereka yang tewas dalam kerjapaksa untuk mendapatkan uang. Juga
pembayaran pajak oleh tapol yang melakukan pertukangan dan
kerajinan tangan. Untuk siapa dan kepada siapa tidak jelas.
Menurut korve tulis ini juga harus dinyatakan wajar. Dan
bangunan-bangunan, puluhan banyaknya, besar dan kecil, dengan
peralatan rumahtangga, semua dibangun dan dibiayai oleh tapol,
juga harus dianggap wajar bila dijual pada instansi lain tanpa
ganti rugi pada tapol. Juga perampasan begitu saja sapi-sapinya.
Dan semua ini memang sedang menuju pada sejarah, tapi belum
sejarah. Masih panjang lagi daftarnya. Semua kebanditan, besar
dan kecil akan terpulang pada bangsa ini, bangsaku, yang
melahirkan suatu kekuasaan macam ini. Bukan maksudku mendirikan
dunia utopi dengan bangsa ini, menduduki bagian dunia dengan
tanpa cacat--bangsa-bangsa lain pun punya segi gelapnya--yang
aku maksudkan adalah bangsa ini belum melahirkan cercah
kecerahan, Verlichting, Aufklarung. Para brahmin tetap masih
menduduki tempat sebagai asesori kekuasaan kasta satria, yang
hidup dari dan untuk kekuasaan semata, karena memang tidak
produktif apalagi kreatif, seperti sebelum datangnya
kolonialisme. Tidak mengherankan bila ribuan naskah isinya
berputar sekitar ke"hebat"an para satria dalam membunuh yang
dianggap lawannya, dan ribuan lagi naskah yang isinya resep
tentang hidup bahagia (dalam alam kehidupan sumpek) dan
nasihat-nasihat berkelakuan indah dan baik (dalam alam kehidupan
banditisme), tentang alam gaib dan teknik berhubungan dengannya
(dalam suasana belum lagi mengenal lingkungan sendiri).
Apa yang dikatakan letkol Lewerisa tepat minus X. Kami beberapa
belas orang sebelum kapal sampai ke Jakarta, diturunkan di
Tanjungperak, Surabaya, untuk disimpan di pulau penjara Nusa
Kambangan, di selatan Jawa. Hanya karena jasa pers
internasional, yang meributkannya, akhirnya kami sampai ke
Jakarta, memasuki penjara baru yang lebih longgar. Dalam tahanan
kota sejak akhir 1979 sampai 1991, tanpa suatu keputusan
pengadilan mana pun. Banyak terjadi korban tuduhan baru, yang,
sebagai pengarang tentu saja memperkaya materi yang harus
diendapkan. Setidak-tidaknya, membuat sejarah hidup pengarang
menjadi semakin panjang.
Dalam tahanan kota dengan kebebasan nisbiah dapat kuikuti koran
dalam dan luar negeri. Tuduhan ternyata datang berantai dari
Indonesia sendiri sampai dari bagian-bagian Asia Timur dan
Eropa: semasa Soekarno aku melarang terbit sejumlah buku sesama
pengarang. Aku menteror para pengarang Indonesia yang tidak
sepikiran dengan artikelku "Yang Harus Dibabat dan Harus
Dibangun". Bahkan seorang tokoh sastra terkemuka, memberikan
kuliah pada suatu universitas negeri, menyatakan telah dipecat
karena ulahku. Kebetulan tokoh tersebut, seperti halnya sejumlah
yang lain, semasa revolusi justru menjadi pejabat pada dinas
balatentara pendudukan Belanda, sebagian lain, karena umurnya,
barangtentu tidak menyertai revolusi.
Pecat-memecat dari sesuatu jabatan bukan urusanku, dan memang
tidak pernah. Tuduhan-tuduhan itu hanya tabir asap terhadap apa
yang mereka sendiri telah dan ingin lakukan. Pada hari-hari awal
peristiwa 1965 merekalah yang menteror dan menghancurkan seluruh
kertasku, termasuk naskah Panggil Aku Kartini Saja jilid III dan
IV, Kumpulan Karya Kartini, Wanita Sebelum Kartini, Kumpulan
Cerpen Bung Karno, 2 jilid terakhir trilogi Gadis Pantai, Sebuah
Studi tentang Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Studi Percobaan
tentang Sejarah Bahasa Indonesia. Sedang direktur Balai Pustaka
menjawab atas permintaaanku untuk menarik kembali 2 jilid sastra
Pra-Indonesia, mendapat jawaban: telah dibakar atas permintaan
atasan.
Seorang tokoh sastra penting yang semasa Orla menempatkan diriku
sebagai lawan, pernah menyampaikan nama-nama tokoh sastra
penting dewasa ini yang ikut menyerbu ke rumahku pada 1965
tersebut. Malahan sebelum menyerbu telah mendapat pesan dari
tokoh sastra generasi lebih tua agar mengambilkan naskah
Ensiklopedi Sastra Indonesia yang sedang aku susun.
Pada awal tahun 80-an Beb Vuyk di Belanda melancarkan tuduhan,
LEKRA mengirimkan 'knokploeg' untuk menghajar lawan-lawannya. Di
antara kurbannya adalah musikolog Bernard Ijzerdraat. Di Belanda
isyu tentang pengiriman knokploeg nampaknya tetap hidup sampai
menjelang akhir 1991. Waktu terakhir kali Beb Vuyk datang ke
Indonesia dan menemui musikolog tersebut, ia mendapat sangkalan
darinya. Namun ia tak pernah merevisi tuduhannya. Sebaliknya
beberapa anggota LEKRA telah mereka bunuh, di antaranya adalah
pematung nasional Trubus dalam perjalanan ke Jakarta memenuhi
panggilan Presiden Soekarno. Sampai sekarang tidak ada yang
pernah mengaku bertanggungjawab, juga atas pembunuhan ratusan
ribu saudaranya sendiri. Memang beda dari apa yang dinamai kaum
teroris di Utara, begitu beraksi begitu menyatakan dirinya yang
bertanggungjawab, mereka tidak memerlukan topeng atau pun jubah
malaikat. Jangankan pembunuhan massal, pencurian
sekecil-kecilnya adalah kejahatan, dan semua itu bisa terjadi
hanya karena peradaban dan budaya 'kampung', peradaban dan
budaya masyarakat bangsa-bangsa yang terasing, merasa tidak aman
dan terancam karena ulah sendiri, dan topeng dan jubah kesucian
menjadi seragam parade yang mengasyikkan untuk dipanggungkan
dalam drama-komik.
Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tugas mengelola semua materi
yang belum selesai itu dalam suatu karya sastra. Bukan
mencerminkan atau memantulkan kejadian-kejadian, karena sastra
tidak bertugas memotret, tetapi mengubah kenyataan-kenyataan
hulu menjadi kenyataan sastrawi, yang membawa pembacanya lebih
maju daripada yang mapan.
Apakah sikap demikian sikap subversif, atau kriminal? Itu pun
terserah pada tuan-tuan yang berkuasa, yang mempunyai serdadu,
polisi, dan perangkat administratif. Tindakannya tak lain dari
apa yang tingkat peradaban budayanya bisa berikan. Sekiranya
lebih maju dari takaran peradaban dan budayanya, semoga
demikian, boleh jadi itu suatu isyarat positif, kutukan 7
turunan Gandring tidak akan berlaku sampai 2 generasi, karena
babak sinthesis sedang di ambang pintu. Yang jelas, semua yang
telah terjadi akan abadi dalam ingatan bangsa ini dan umat
manusia sepanjang abad, tak peduli orang suka atau tidak. Para
pengarang akan menghidupkannya lebih jelas dalam karya-karyanya.
Para pembunuh dan terbunuh akan menjadi abadi di dalamnya
daripada sebagai pelaku sejarah saja. Topeng dan jubah suci akan
berserakan.

Sekali lagi, maaf.
Jakarta, November 1991.

Labels:


posted by dq @ 6:24 AM  

DJAKARTA


PRAMOEDYA ANANTA TOER

Almanak Seni 1957

Sekarang tiba gilirannja: dia djuga mau pergi ke Djakarta.

Aku takkan salahkan kau, mengapa kau ingin djadi wargakota Djakarta pula. Besok atau lusa keinginan dan tjita itu akan timbul djuga. Engkau di pedalaman terlampau banjak memandang ke Djakarta. Engkau bangunkan Djakarta dalam anganmu dengan segala kemegahan jang tak terdapat di tempatmu sendiri. Kau gandrung padanja. Kau kumpulkan tekat segumpil demi segumpil.

Ah, kawan, biarlah aku tjeritakan kau tentang Djakarta kita.

Tahun 1942 waktu untuk pertama kalinja aku indjak tanah ibukota ini, setasiun Gambir dikepung oleh del­man. Kini delman ini telah hilang dari pemandangan kota —hanja tudjubelas tahun kemudian! Betjak jang menggantikannja. Kuda-kuda diungsikan ke pinggiran kota. Dan kemudian: manusia-manusia mendjadi kuda dan sopirnja sekali: begini tidak ada ongkos pem­beli rumput! Inilah Djakarta. Demi uang manusia se­dia djadi kuda. Tentu sadja kotamu punja betjak djuga tetapi sudah djadi adat daerah meniru kebobrokan ibu­kota.

Bukan salah manusia ini, kawan. Seperti engkau djuga, orang-orang ini mengumpulkan tekat segumpil demi segumpil­ perawan-perawan sawah, ladang dan pegunungan, buruh-buruh tani, petani-petani sendiri jang bidang tanahnja telah didih di dalam perasaannja, warga-warga dusun jang dibuat porakperanda oleh gerombolan, peladjar-peladjar jang hendak meneruskan peladjaran, djuga engkau sendiri —dan dengan penuh kepertjajaan akan keindahan nasib baik di ibukota.

Kemudian bila mereka sampai di Djakarta kita ini, perawan-perawan pedalaman jang datang kemari sekedar tjari makan, dia dapat makan, lupa tjari makan, dia kepingin kesenangan, dan tiap malam berderet di­ depan gedung tempatkerdjanja masing-masing. Pria tidak semudah itu mendapat pekerdjaan, dan achirnja mendjadi kuda. Beberapa bulan kemudian paha para pria ini mendjadi begitu penuhsesak dengan otot jang ter­lampau banjak dipaksa kerdja. Tiap minggu mereka menelan teIur ajam mentah. Dan djalan raja memberinja kemerdekaan penuh. Bila datang bahaja ia lepas betja berdjalan sendirian, dan ia melompat ke kakilima. Djuga tanggungdjawab delman hilang di tangan kuda-kuda ini. Beberapa tahun kemudian ia 'ngedjengkang' di balenja karena djantungnja mendjadi besar, desakan darahnja meninggi: ia invalid —puluhan! ratusan ribu! kembali ke kampung sebagai sampah. Bila ada kekajaan, adalah kekajaan membual tentang kepele­siran. Tetapi untuk selama-lamanja ia telah mati, su­dah lama mati. Djumlah kurban ini banjak daripada kurban revolusi bakalnja.

Djadi engkaupun ingin djadi warga Djakarta!

Djadi engkaupun ingin djadi sebagian kegalauan ini.

Dari rumah masing-masing orang bertekat mentjari uang di Djakarta. Djuga orang-orang daerah jang kaja mengandung maksud: ke Djakarta —hamburkan uang­nja. Dan djuga badjingan-badjingan daerah: ke Dja­karta —menangguk duit. Demi duit ini pula Djakarta bangun. Sebenarnja sedjak masuknja kompeni ke Dja­karta, Djakarta hingga kini belum djuga merupakan kota, hanja kelompokan besar dusun. Hingga sekarang. Tidak ada tumbuh kebudajaan kota jang spesifik, semua dari daerah atau didatangkan dan diimport dari luar negeri: dansa, bioskop, pelesiran, minuman keras dan agama, berbagai matjam agama.

Aku lupa, bahwa kau datang hendak kemari untuk beladjar. Tetapi barangkali patut pula kau djadikan ke­nangan, pusat beladjar daerah kita adalah Djakarta. Tetapi sungguh aku sesalkan, bahwa Djakarta kita bu­kanlah pusat beladjar jang mampu menjebabkan para mahasiswa ini mendjadi perspektif kesardjanaan Indonesia di kemudianhari. Sisa-sisa intelektualisme karena gebukan balatentara Dai Nippon kini telah bangkit kembali dengan hebatnja. Titel akademi jang diperoleh tiap tahun beku dikantor-kantor, dan daerah­mu tetap gersang menginginkan bimbingan. Dan bimbingan itu masih tergantung-gantung djauh di ang­kasa biru. Semua orang asing, dengan warnapolitiknja masing-masing, jang memberi kauremah-remah dari­pada kekajaan kita terbaik jang diisapnja.

Aku tahu, engkau orang daerah, orang pedalaman memdewakan pemimpin-pemimpinmu, tetapi aku lebih dekat pada kenjataan ini. Aku tahu engkau berteriak­-teriak tentang perekonomian nasional, tetapi basis ke­hidupan jang didasarkan atas perdagangan eksport, bukan sadja typis negara agraria, djuga negara kolonial. Sepandjang sedjarah negara-negara petani mendjadi negeri djadjahan, dan tetap mendjadi negeri djadjahan.

Dan bukankah petani-petani daerahmu masih tetap hamba-hamba di djaman Madjapahit, Sriwidjaja atau Mataram? Siang kepunjaan radja, malam kepunjaan durdjana! Dan radja di djaman merdeka kita ini ada­lah naik-turunnja harga hasil pertaniannja sendiri. Se­dang durdjananja tetap djuga durdjana Madjapahit, Sriwidjaja dan Mataram jang dahulu: perampok, pen­tjuri, gerombolan, pembunuh, pembegal.

Djadi beginilah, kawan. Djakarta merupakan impian orang daerah. Semua ingin ke Djakarta. Tapi Djakarta sendiri hanja kelompokan besar dusun, bahkan bahasa perhubungan jang masak tidak punja. Anak-anak men­djadi terlampau tjepat masak, karena baji-baji, kanak­-kanak dan orangtuanja digiring ke dalam ruangan­-ruangan jang teramat sempit sehingga tiap waktu me­reka bergaul begitu rapat. Masalah orangtua tak ada jang tabu lagi bagi kanak-kanak. Kewibawaan orangtua men­djadi hilang, dan segi-segi jang baik daripada perhubungan antara orangtua dan anak dahulu, kini mendjadi tum­pul. Agama telah mendjadi gaja kehidupan, bukan perbentengan rohani jang terachir. Aku tjeritai kau, kemarin anakku jang paling amat besar enam umurnja, bertjerita: Orang-orang ini dibuat Tuhan. Tapi apakah randjang ini dibuat olehNja djuga? Ia pandangi aku. Waktu kutanjakan kepadanja bagajmana warna Tuhan: hitam ataukah merah? Ia mendjawab Putih! Ia pilih warna jang tidak mengandung interpretasi, tidak di­warnai oleh pretensi. Sebaliknja kehidupan Djakarta ini, —dan barangkali patut benar ini kau ketahui: penuh-sesak dengan interpretasi dan pretensi ini. Di­ segala lapangan! Lebih mendjengkelkan daripada itu: tiap-tiap orang mau mendesakkan kepunjaannja masing-­masing kepada orang lain, kepada lingkungannja. Sungguh-sungguh tiada tertanggungkan. Barangkali kau pernah peladjari sedjarah kemerdekaan berpikir. Bila demikian halnja kau akan dikutuki tjelaka.

Tetapi djangan kaukira, bahwa kegalauan ini ber­arti mutlak. Barangkali adanja kegalauan ini hanjalah suatu salahharap daripadaku sebagai perseorangan. Aku seorang pengarang, dan pengarang di masa kita ini, terutama di ibukota kita, adalah sematjam kerbau jang salah mendarat di tanah tandus. Setidak-tidaknja kega­lauan ini memberi rahmat djuga bagi golongan-golongan terten­tu, terutama bagi para pedagang nasional, jakni jang berdjualbelikan kenasionalan tanah-airnja dan dirinja. Mungkin engkau tidak setudju. Tetapi barangkali lebih baik demikian. Sungguh lebih menjenangkan bagimu bila masih punja pegangan pada kepertjajaan akan kebaikan segala jang dimiliki oleh tanah-airmu dalam segala segi dan variasinja. Kami golongan pengarang, biasanja tiada lain daripada tenaga penentang, golongan opposisi jang tidak resmi. Resmi: pengarang. Tidak resmi: opposisi periuk terbaik! Dengan sendi­dirinja sadja begitu, karena kami bitjara dengan selu­ruh ada kami, kami hanja punja satu moral. Itu pula sebabnja, bila kami tewas, tewas setjara keseluruhan. Bukannja tewas di moral jang pertama, tetapi mendjadi tambun di moral jang keempat! mendjadi melengkung di moral jang ketiga!

Aku kira terlampau djauh lantaranku ini. Padamu aku mau bitjara tentang Djakarta kita.

Sekali waktu di suatu peristiwa, Omar pernah bitjara dengan sombongnja: Bakar semua chazanah, karena segalanja telah termaktub di dalam kur'an! Permun­tjulan jang grandiues tapi tak punja kontour-kontour kenjataan ini adalah gambaran kedjiwaan Djakarta: rentjana-rentjana besar, galangan-galangan terbesar di Asia Tenggara, tugu terbesar di Asia, kemerosotan mo­ral terbesar! segala terbesar. Tapi tak ada sekrup, tak mur, tak ada ada drat, tak ada nipple, tak ada naaf, tak ada inden dan ring pada permesinan semua ini.

Sekali waktu disuatu peritiwa, Pascal mentjatat di­ dalam bukunja: Manusia hanja sebatang rumput, teta­pi rumput jang berakal budi. Dan rumput ini adalah golongan jang mempunjai kesadaran tanpa kekuasaan, terindjak dan termakan. Jang lahir, kering dan mati dengan diam-diam. Namun mendjadi permulaan dari pada kehidupan, seperti jang disaksikan oleh Schweit­zer, serta risalah Kan Ying Pien.

Berbagai matjam angkatan tjampur-baur mendjadi satu, seperti sambal jang menerbitkan satu rasa, tetapi dengan teropong masih djelas nampak perpisahan an­tara bagian satu dengan jang lain. Namun pentypean sematjam jang tegakkan oleh Remarque tidak memper­lihatkan diri.

Barangkali engkau keberatan dengan kata-kataku itu. Tetapi memang demikian. Tjobalah ikuti tulisan-tulisan angkatan demi angkatan. Angkatan jang muda mentja­tji jang tua, jang muda ditjatji oleh jang lebih muda. Tetapi, kata Ramadhan KH jang pernah aku dengar, angkatan muda ini bila diberi kesempatan, dia kehilangan segala proporsi dan lemih mendjadi badut lagi. Artinja badut di lingkungan badut. Tokoh-tokoh pemi­kiran mengetengahkan Wulan Purnomosidhi dan Ada­tidaknja Tuhan, di dalam kekatjauan sosiologis, ekono­mis dan politis, kultural dan intertual! Apakah kita mesti ikut pukul kaleng untuk membuat segala ini men­djadi bertambah ramai? Sedang anak-anak murid ini telah demikian goiat dengan membanggakan pengeta­huannja tentang para tjabul dan 'rakjat ketjil' plus sa­duran Toto Sudarto Bahtiar Tjabul Terhormat karang­an Sartre? Plus Margaretta Gouthier saduran Hamka dari Alexander Dumas Jr. Hamka? ja Hamka.

Achirnja, seperti kata A. S. Dharta, orang-orang da­tang dan berkumpul ke Djakarta, mendjadi warga Dja­karta, untuk mempertjepatkan keruntuhan kelompokan besar dusun ini. Tambah banjak jang datang tambah tjepat lagi.

Selagi aku belum djadi penduduk Djakarta, damba anku mungkin seperti kau punja. Impian jang indah, bajangan pada pembangunan haridepan. Diri masih pe­nuh diperlengkapi kekuatan, kemampuan dan kepertja­jaan diri. Barangkali bagimu segala itu lebih keras lagi. Karena di daerah bertiup angin: orang takkan djadi warganegara jang 100% sebelum melihat Djakarta de­ngan mata kepala sendiri.

Barangkali engkau akan bertanja kepadaku, mengapa tak djuga menjingkirkan diri dari Djakarta! Ah, kau. Golongan kami adalah sematjam kerbau jang mendarat di tanah tandus. Golongan kami reaksioner di lapangan penghidupan. Sekalipun tandusnja penghidupan golong­an kami, djustru Djakartalah jang bisa memberi, seka­lipun hanja remah-remah para pedagang nasional, atau petani pasar minggu. Tambah lama nasi jang sepiring harus dibagi dengan empat-lima anak-anaknja. Dan anak-anak ini akan mengalami masa kehilangan masa kanak-kanak, masa kanak-kanaknja sendiri. Kanak-kanak Djakarta jang tak punja lapangan bergerak, tak punja lapangan bermain, tak punja daerah perkem­bangan kedjiwaan, menjurus dari gang dan got, membunuh tiap marga-satwa jang tertangkap oleh matanja. Katak dan ketam dan belut dan burung mengalami lik­widasi, di Djakarta! Tetapi njamuk meradjalela, dan tjitjak dan sampah. Djuga mereka ini hidup di alam ketaksenangan. Taman-taman hanja di daerah Menteng dan perkampungan baru. Engkau tahu, djadi orang apa ka­nak-kanak sematjam ini djadinja di kemudian hari.

Engku tahu, ada pernah dibisikkan kepadaku: da­erah jang punja taman adalah lahir dan berkembang karena telah menghisap darah daerah jang tak punja taman. Tentu sadja bisikan ini konsekwensi daripada prinsip perdjuangan kelas. Barangkali engkau tak setu­dju, karena ini membawa-bawa politik atau pergeseran kemasjarakatan jang berwarna politik atau politik ekonomi. Mungkin djuga hanja suatu kedengkian jang tak sehat. Tapi apakah jang dapat kauharapkan dari suatu masjarakat dimana sebahagian besar warganja hidup dalam suasana tak senang, tak ada pegangan, tak ada kepertjajaan pada haridepan! Sedang para pedagang nasional djuga tak punja haridepan, karena kemanisan jang diperolehnja harikini diisapnja habis harikini pula, untuk dirinja sendiri tentu, atas nama kenaikan harga tentu, sehingga mereka mendjadi para turis di daerah kehidupannja sendiri.

Segala jang buruk berkembang-biak dengan mantiknja di Djakarta ini. Segi-segi kehidupan amatlah runtjing­nja dan melukai orang jang tersinggung olehnja. Tetapi wargakota jang sebelum proklamasi bersikap apatis ­— apatisnja seorang hamba — kini kulihat apatisnja orang merdeka dengan djiwa hambanja. Bukan penghinaan, sekalipun suatu peringatan itu kadang-kadang terasa

sebagai penghinaan. Di dalam kehidupan jang tidak menjenangkan apakah jang tak terasa sebagai penghi­naan! Dan tiap titik jang menjenangkan dianggap pudjian, atau setidak-tidaknja setjara subjektif: penga­kuan dari pihak luaran akan kesamaan martabat dengan orang atau bangsa jang memang telah merdeka dan tahu mempergunakan kemerdekaannja. Barangkali engkau menghendaki ketegasan utjapan ini. Baiklah aku tegaskan kepadamu: memang wargakota belum lagi 25% bertindak sebagai bangsa merdeka. Anarki ketjil­-ketjilan, sebagaimana mereka dahulu dilahirkan dalam lingkungan jang serba ketjil-ketjil pula: buang sam­pah digot! bandjir tiap hudjan akibatnja; pendudukan tanah orang lain jang disadari benar bukan tanahnja sendiri menurut segala hukum jang ada, sekalipun sah menurut hukum jang dikarang-karangnja sendiri: ketimpangan hak tanah adalah ketimpangan penghidupan, kehidupan dan kesedjahteraan sosial. Mengapa? Kare­na besok atau lusa tiap orang dapat didorong keluar dari rumah dan pekarangannja sendiri-sendiri. Kedjo­rokan dan kelalaian jang dengan langsung menudju ke pelanggaran ketertiban bersama. Dan djalan-djalan raja serta segala matjam djalanan umum mendjadi me­dan permainan Djibril mentjari mangsa. Djuga ini akibat hati orang tidak senang. Bawah sadarnja bilang: dia tak dilindungi hukum — dia, baik jang melanggar maupun jang dilanggar.

Nah demikianlah Djakarta kita, sekian tahun setelah merdeka.

Barangkali engkau mengagumi kaum tjerdik-pandai jang sering diagungkan namanja disurat-suratkabar. Hanja sedikit di antara mereka itu jang benar-benar bekerdja produktif-kreatif. Jang lain-lain terpaksa mem­populerkan diri agar tak tumbang dimedan penghidup­an! Apakah jang telah ditemukan oleh universitas Indonesia selama ini jang punja prestasi interna­sional! Di lapangan kepolitikan, apakah pantjasila telah melahirkan suatu kenjataan di mana engkau sadar di hatiketjilmu bahwa kau sudah harus merasa berterimakasih. Aku pernah menghitung, dan dalam sehari pada suatu hari jang tak terpilih, diutjapkan limabelas kali kata pantjasila itu baik melalui pers, radio, atau mulut orang. Sedjalan dengan tradisi pendjadjahan jang selalu dideritakan oleh rakjat kita, maka nampak pula garis-garis jang tegas dalam masa pendjadjahan priaji­-pedagang ini: orang membangun dari atas. Tanpa pondamen. Ah, kawan, kita mengulangi sedjarah ke­gagalan revolusi Perantjis.

Barangkali kau menjesalkan pandanganku jang pessimistis.

Akupun mengerti keberatanmu. Asal sadja kau tidak lupa: sekian tahun merdeka ini belum lagi bitjara apa-apa bagi mereka jang tewas dalam babak pertama revolusi kita. Kalau Anatole France bitjara tentang iblis-iblis jang haus akan darah di masa pemerintahan pergulingan itu, aku bisa djuga bitjara tentang iblis-­iblis jang haus akan kurban, akan kaum invalid peng­hidupan dan kehidupan. Dan bila kurban-kurban dan kaum invalid penghidupan dan kehidupan ini merasa tak pernah dirugikan, itulah tanda jang tepat, bahwa iblis itu telah lakukan apa jang dinamai zakelijkheid dengan pintarnja. Dan bila iblis-iblis ini tetap apa jang biasa dinamai badjingan.

Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan zakelijkheid!

Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan kehidupan kesardjanaan! kepriajian dan perdagangan!

Sardjana adalah kompas kita, ke mana kita harus pergi mentjari pegangan dalam lalulintas kebendaan di kekinian dan dimasa-masa mendatang. Sardjanamu, sardjanaku, wartawanmu, wartawanku, politisimu, politisiku, melihat adanja kesumbangan, dan: titik, stop. Djuga seperti turis di dalam gelanggang kehidup­annja sendiri.

Barangkali, engkaupun akan menuduh mengapa aku tak berbuat lain daripada mereka. Tetapi akupun tahu, bahwa engkau tidak melupakan sjarat ini: ke­kuasaan. Kekuasaan ini akan ditelan lahap-lahap oleh tiap orang, tetapi tidak tiap orang tahu tjaranja men­dapatkan dan menelannja. Sematjam kutjingmu sen­diri. Sekalipun sedjak lahir kauberi nasi tok, sekali waktu bila ditemukannja daging akan dilahapnja djuga. Djadi kau sekarang tahu segi-segi gelap dari ibukota kita ini. Segi-segi jang terang aku tak tahu samasekali, karena memang hal itu belum lagi diwahjukan kepada­ku, baik melalui inderaku jang lima-limanja ataupun jang keenam. Tetapi aku nasihatkan kepadamu, dalam masa kita ini, djanganlah tiap hal kauanggap mengan­dung kebenaran 100%, dengan menaksir duapuluh prosen pun kau kadang-kadang dihembalang keketje­waan. Djuga demikian halnja dengan uraianku ini.

Aku tahu, engkau seorang patriot dalam maksud dan djiwamu, karena engkau orang daerah jang djauh dari kegalauan kota besar, kumpulan besar dusun ini. Eng­kau akan berdjasa bila bisa membendung tiap orang jang hendak melahirkan diri dari daerahnja hendak memadatkan Djakarta. Tinggallah di daerahmu. Buat­lah usaha agar tempatmu mempunjai sekolah mene­ngah atas sebanjak mungkin. Dan buatlah tiap sekolah menengah atas itu mendjadi bunga bangsamu dike­mudianhari: djadi sumber kegiatan sosial, sumber ke­sedaran politik setjara ilmu, sumber kegiatan pentjip­taan dan latihan kerdja. Pernah aku beri tjeramah di kota kelahiranku dua tahun jang lalu: mobilisasilkan tiap murid ini untuk berbakti pada masjarakatnja, untuk beladjar berbakti, untuk membelokkannja daripada intelektualisme jang hanja mengetahui tanpa ketjakapan mempergunakan pengetahuannja. Apa ilmu pasti jang mereka terima itu bagi kehidupannja di kemudianhari bila tidak berguna ?

Djangan kausangka, aku hendak mendiktekan kema­uanku sendiri. Aku kira aku telah tjukup tua untuk menjatakan semua ini kepadamu, — engkau jang ku­harapkan djadi pahlawan pembangun daerahmu. Djuga engkau ada merendahkan petani, karena engkau lahir dari golongan prijaji — pendjadjah petani sepandjang sedjarah pendjadjahan: Djepang, Belanda, Inggris, Mataram, Madjapahit, Sriwidjaja, Mataram dan kera­djaan-keradjaan perompak ketjil jang tidak mempunjai tempat chusus di dalam sedjarah.

Kawan, sebenarnja revolusi kita harus melahirkan satu bangsa baru, bangsa jang nomogeen, bangsa jang bisa menjalurkan kekuasaan itu sehingga mendjadi tenaga pentjipta raksasa, dan bukan menjerbit-njerbit­nja dan melahapnja sehingga habis sampai pada kita, pada rakjat jang ketjil ini. Dari dulu aku telah bilang kekuasaan dan kewibawaan kandas di tangan para petugas. Petugas jang benar-benar pada tempatnja hanja sedikit, dan suaranja biasa habis punah ditelan agitasi politik — sekalipun tiap orang tahu ini bukan masa agitasi lagi, kalau menjadari gentingnja situasi tanah­airnja dalam lalulintas sedjarah dunia !

Kita mesti kerdja.

Tetapi apa jang mesti kita kerdjakan, bila mereka jang kerdja tak mendapat penghargaan dan hasil seba­gaimana mesti ia terima ?

Aku kira takkan habis-habisnja ngomong tentang Djakarta kita, pusat pemerintahan nasional kita ini. Setidak-tidaknja aku amat berharap pada kau, orang daerah, orang pedalaman, bakar habis keinginan ke Djakarta untuk menambah djumlah tugu kegagalan revolusi kita. Bangunkan daerahmu sendiri. Apakah karena itu engkau djadi federalis, aku tak hiraukan lagi. Dulu sungguh mengagetkan hatiku mendengar bisikan orang pada telingaku: mana jang lebih penting, kemer­dekaan ataukah persatuan? Dan kuanggap bisikan ini sebagai benih-benih federalisme. Aku tak hiraukan lagi apakah federalisme setjara sadar dianggap djuga se­bagai kedjahatan atau tidak! Setidak-tidaknja aku tetap berharap kepadamu, bangunkan daerahmu sendiri. Tak ada gunanja kau melantjong ke ibukota untuk men­tjontoh kefatalan di sini.

Kawan, sekianlah.

Djakarta, 17-XII-1955


Labels:


Monday, September 24, 2007

posted by dq @ 9:30 PM  
This is England:a movie review



Film drama yang mengambil setting Inggris di early 80”s ini bercerita tentang gambaran kasar tentang Inggris yang diceritakan lewat racial prejudicenya kaum skinhead (yang pada era itu kaum skinhead diyakini sebagai para penganut faham rasial...That’s shits man…), juga tentang sebuah hope, a great friendship, loneliness and fuckin shit about politics.

Film yang menurut saya sangat-sangat Brit banget, karena (mungkin) memasukkan unsur subculture (yang lahir) di Inggris, juga pada awal tahun 80-an tersebut meredupnya glam dan musik rock memasuki babak baru, juga merupakan tahun yang sangat ironis bagi rakyat Inggris karena pengangguran meningkat sangat tinggi serta lunturnya nasionalisme di inggris raya, sampai kelunturan nasionalisme di inggris, serta kelanjutan dari mini skirt, mini morals (seperti Indonesia sekarang) dari era sebelumnya.

Film ini di buka dengan gambar peristiwa yang seolah-olah menjadi ikon di tahun tersebut, yang dulu Cuma kita lihat lewat Dunia Dalam Berita nya TVRI.
Dengan lantunan musik reggaenya F.Hibbert, “54-46 was my numbers” yang dibawakan dengan cantik oleh tooth and the maytails, compile gambar seperti Falkland war dimana Inggris berperang dengan Argentina untuk pulau Malvinas, aksi rasis yang ditujukan kepada imigran Pakistan (asia), neo-nazi parade, Margaret thatcher, film knight rider, skinhead gig, pernikahan putrid Diana dan pangeran charles, white reggae, aksi-aksi greenpeace, era video game Atari (dimana Atari mengeluarkan produk barunya table-version), era awal cd audio dibuat, dan tentu saja skinhead stuff like fred perry, ben shermans, Dr. Marten boots (that’s make me think about …; ) ) serta gignya the police sangat menyatu dengan musik reggae untuk menggambarkan suasana pada era itu (its very-very cracking for eighties sountrack).

Film ini bercerita tentang seorang anak (shaun) yang mengalami masalah pada kehidupan karena ditinggal mati ayahnya di perang malvinas, ia menjadi peka dan sangat perasa.
Ia kemudian bertemu dengan Woody seorang skinhead yang mengajaknya ikut bergabung ke dalam geng, di situ ia dapat diterima dan mendapat teman. ada peristiwa yang menurut saya lucu ketika Shaun minta sepatu Dr Martens kepada ibunya, and he said…no shaun, they look like thug boots, they’re awful…(hehehe..teringat dulu ibu saya juga ngomong seperti itu).

Persoalan muncul ketika geng itu kemasukan orang lama (Combo) yang membawa rasa rasis ke dalam geng itu, karena Woody menolak prinsip rasis itu, muncul perpecahan dan setiap tokoh dalam geng tersebut harus memilih untuk berpihak kepada siapa, pada saat itu rakyat Inggris sedang dilanda krisis karena pengangguran dan masalah rasial yang tinggi, dimana perekonomian dikuasai oleh orang non-Inggris dan sensitive issue tersebut digunakan oleh kaum nationalist sebagai alat propaganda kampanye yang menggunakan skinhead sebagai alat perangnya, itu kelihatan pada saat jubir nationalist Front (di film itu) berbicara,
"Our country is being stolen from under our noses. The time has come to take it back”.
(Sebuah pernyataan yang saya kira sangat nasionalis banget…)

Pemakaian karakter Shaun (12 Tahun) menurut saya bagus, karena Like the England he inhabits, he is a heap of contradictions. His small frame and innocent face belie his brazen gobbiness and the foul, racist curses that his mouth emits are made all the more deplorable in contrast to his simple, childish giggles.
penggunaan frame subkultur skinhead untuk menggambarkan (Inggris umumnya) film ini khususnya sangat orisinal karena anggapan saya dengan melihat satu budaya dari sebuah negara, kita akan melihat gambaran umum tentang negara tersebut.

Penggambaran drama film diatas sangat gamblang, baik dan enak ditonton, walaupun ceritanya sangat sentralisitis, (hanya tentang persoalan itu saja), tapi dengan pandangan dan angle sang sutradara (mungkin) dengan background subkultur film jadi tidak membosankan.

Mungkin menurut saya apa yang kita ambil dari This Is England ialah sang sutradara berhasil mengangkat suatu cerita yang emosional, dengan sebuah background sebuah keadaan subkultur, walaupun memakai setting 80-an tapi jangan harap romantisme masa silam ditemukan disini, yang (selalu) dipenuhi glitter dan gaya klasik (retro), dan dibumbui dengan jalinan asmara dua sejoli (he..he..he..). Tetapi, difilm ini penuh dengan rasa hangat hubungan antar manusia, refleksi sosial dari keburukan moral dan pemahanaman yang salah tentang politik, suatu keadaan saat ini kita rasakan….

Labels:


Saturday, March 10, 2007

posted by dq @ 3:05 PM  
LIVE IN CONCERT


DRAGONFORCE "INHUMAN RAMPAGE TOUR WORLD TOUR 2007"

JAKARTA, TENNIS INDOOR SENAYAN
SATURDAY MAY 19 2007
www.dragonforce.com


Thursday, September 14, 2006

posted by dq @ 7:17 PM  


OUT NOW...!!!

from ruckson records label
THE NEW ALBUM FROM THE

DOM 65
"GREATEST PLEDGE ARTICLE"


contact me in laskarmataram@gmail.com

Sunday, August 20, 2006

posted by dq @ 10:32 AM  

NOSTALGIA IN THE UK

As we write, in this month’s (May’s) GQ magazine there’s a nice little nostalgia piece on Eighties protest, complete with quaint little photos of earnest crusties on Poll Tax riots which are no doubt suitable for home framing. Such indications of our own irrelevance might be easier to stomach if we were up to bold new adventures. However Smash Hits, created as a forum for new ideas, has largely the same old saws in it - syndicalism, localism, why we should all join the ACF and even an article by Colin Ward!
Okay, so forests of good new ideas aren’t going to spring up overnight. But it does seem indicative of a general tendency for us, not knowing where we’re going, to instead venerate our own past. Even people too young to have ever been at Stop the City or the Brixton riots have been steeped in our lore to the point where they can repeat it by rote.

Even actions which were actually total failures, such as the Bash the Rich marches, have been transformed in our memories and added to the collection of cups. Depressed at the low turnout at last night’s meeting? Never mind, let’s tell the one again about the paraplegic guy who got wheeled round the looted supermarket, that always goes down well.

Maybe we’re never going to get out of this impasse until we take a cold and dispassionate look at our own roots, and see the early 80s as a set of events arising out of specific conditions and not some golden age where cider flowed, insurgent proles filled every streetcorner and chocolate bars were bigger.




EARLY 8OS: GOLDEN YEARS?

One of the ironies about 80s anarchism was that it was created, and probably always defined, by Thatcherism. At the time many in the establishment saw the country as in the grip of militant unionism, as evidenced when the Miners drove the Tories from office in ‘74. One of the workers’ main weapons was full employment, creating labour scarcity and with it the closed shop etc. Determined to break this grip at all costs the new Government decided to re-create unemployment, hoping to strike fear into potential strikers by creating a repository of potential scabs.

However, this move had an unforeseen consequence - they created a generation of young unemployed who had never known work discipline. (Of course they’d been through the preparatory world of school-discipline, but that hadn’t prepared them for the new entrepreneurial world of ‘job hunting’ individualists rather than job-taking’ workers.)

Moreover, combined with the deep blue sea of unemployment was the devil of a widespread counter-culture (anarcho-punk, free festivals, a large squatting network etc.). And the devil, of course, finds work for idle hands. Many soon found causing trouble was a good cheap way of having fun, that bottling speakers at CND rallies was more of a laugh than having to listen to the boring bastards.

In short, in attempting to close one avenue of class struggle (the workplace) they inadvertently opened another. Of course, not all ‘81 rioters were unemployed, but all were fighting on a new frontier capital wasn’t prepared for. On many of our early outings the cops were literally caught on the hop. (It should also be pointed out, however, that probably only a minority of rioters had any direct links with the anarcho scene. And of course only a minority of the new unemployed ever got involved in either - three million troublemakers would have been unstoppable!)



RADICAL NAIVETE

Okay, so what was the ideology of these young hooligans? A word of warning here! Nowadays there’s a virtual academic sub-industry devoted to "explaining" social eruptions such as punk. And of course each analyst has his own theory held apart from all the others - after all, that’s how they earn their living. Surrounded by all this there’s a tendency for us to copy capital’s mindset and each have our own cleverly phrased and neatly constructed "explanation" of the thing that anarchism was "really" about.

But, like most actual movements, anarchism was a volatile mixture of all sorts of contradictions - populist (antipathy to "fancy words") yet wilfully extremist (fixated with violence beyond any context), puritanical (glorifying poverty) yet hedonistic (into heavy drugs consumption) etc. These contradictions aren’t some barrier which specialist thinkers see through to explain the real essence of the movement to us, they were the essence of the movement. If it had ever transcended them, it would have become something else.

But while we can’t reduce anarchism to a coherent set of political ideas it did throw up certain typical attitudes. Adilkno’s ‘Cracking the Movement’ perhaps best sums up the spirit. They write of ‘the Unclassifiables’ who "transformed themselves into ‘activists’, toiling day and night to various ends. ..With radical naiveté they were available for any cause. They’d cook for it in their restaurants, set donation jars on the bars of their coffeeshops, watch the videos, go to all the benefits, come fix a squat up here and there. Everyone was welcome.

"Years of constantly living in the present made every argument involving a historical continuity simply a pretty story from which not a single conclusion had to be drawn. Each action stood completely alone, there was nothing to be learnt from it for a future occasion...The strategic thinkers had to reactivate them over and over, to entice them into contributing to the impression ‘that it’s all happening again’. They made up the movement."



ALTERNATIVE SHOPPING

They’re writing of the Dutch squatter scene, but substitute ‘fleapit pub’ for ‘coffeeshop’ and you won’t go far wrong. Visit either and you d likely find a minority of ‘strategic thinkers’ (usually a few years older and straighter looking) whose job it was to provide tasks for the mohawked mass of do-ers, or ‘activists’. In short we never broke with the organisational forms of the Trots which we so fetishised our hatred of - which of course is the same as that of capital itself.

These tasks were picked from a shopping list of oppressions -animal abuse, anti-fascism, squatting etc. Due to the more disparate social/cultural origins of the ‘activists’ this net had to be cast wider than with the Trots, almost any cause could be cause of the week. We’d use this supposed "openness" to try and deny our division into thinkers and do-ers. (The Trots would even comply with us in this myth to paint us as "disorganised" or "single issue").

But this stretching meant an even greater incoherence than the Trots, not only could anything be brought up at meetings, nothing was allowed to be sorted into any ‘hierarchical’ order of priority. This incoherence had to be covered up by giving activism the tempour of religious fervour.

Anyone had the ‘right’ to do anything, apart from the great unthinkables of fascism and theory. No-one at any time should be allowed the luxury of sitting down and thinking about what we were doing, in case they confronted us with our own void of thought.

Essential to the perpetuation of this was the personalisation of capitalism, which was presented not as an economic system but merely as a bunch of people! Attacks on the working class were seen not as part of capital’s need to restructure itself globally but as coming direct from Thatcher’s personal nastiness. At its best this countered liberal notions of the enemy as some abstract "mode of thought" which floats above society, and led to some who richly deserved it getting gobbed on or roughed up.

But at its worst it became some quasi-revolutionary version of 1g84’s Hate Week. We became radical hit-men, fantasising about bumping off our shopping list of targets whereupon our shopping list of oppressions would magically disappear. Our critique of political representation didn’t go much further than saying Kinnock was no better a person than Thatcher. (Absurdly, in Smash Hits 2 Andy Anderson is still writing about how "capitalism is nothing more than an economic system originated and developed by middle class people.. this system will end when we expropriate the middle class").

(Worse, anarchism borrowed punk’s fixation with British traditionalism - typical targets were the Royals, "toffs" at Henley, fox hunting etc. Ironically, these archaic elements had by then become a barrier to Britain becoming a modern capitalist power - school tie networks stopping careers being open to ability etc. - and a major part of the restructuring project was removing them. While we bayed witlessly outside their Society Balls it was Thatcher who held the real knives for them. However, especially since this became more blatant with Blairism, this is one mistake most of us know not to make again).


PUNKS AND WORKERS

Anarchism’s ‘breakthrough’ is usually seen in Class War circles as getting anarchos to support workers in struggle. In part, this is a fair enough point. Many did move from such threats to capital as not eating meat or buying anything on major record labels to physically contesting the State.

But the central obstacle this faced was rarely addressed, which was getting a movement subcultural in origin to support what was essentially a foreign culture. Endless arguments about Miners eating meat were never the real issue. The point was that these were the very Mums and Dads you spiked your hair up to piss off in the first place! By supporting them anarchopunks became Anarchists - became genuinely political.

However, the divisions inherent in our counter-cultural origins were at best suspended not overcome. Workers might be grateful for the practical support of these funny-looking people, but "they" we remained. At the end of the demo we’d traipse raggedly back to

our squats while they returned to their semis. For most anarchism remained a ‘look’ and attitude first, and a set of political ideas second (if at all). Class War itself was a good barometer of this, often announcing it had "left the anarchist movement" in order to become a mainstream working class organisation - only to find the need to "leave" it all over again a short while later.

It’s also worth pointing out the distinction between the things we supported (Miners and Printers strikes, inner city riots etc.) and the much smaller events we had direct involvement in (disrupting CND marches, Stop the City, anti Public Order Act etc.). We were responsible for the riots only in the minds of Mirror journalists.

Class War called for the rioters to "open up the second front" in support of the Miners, yet the cities stayed defiantly quiet throughout the strike. Unencumbered by Lefty notions which tried to turn insurgents back into victims we could comprehend the rioters’ motives. But that doesn’t mean they were listening to us in the slightest.



LATE 80s - THE DARK AGES

By the late Eighties we’d become increasingly marginalised. As Aufheben have pointed out this was due to a combination of the ‘stick’ of dole squeezes (especially the ‘87 Fowler Review) with the carrot’ of new found social affluence (‘Fragmentation of AnarchoPunk’ from ‘Kill or Chill’, Aufheben 4.) Not only were new people not coming into the movement, many were leaving in droves.

This led to those that remained clinging to their ideological fixations with greater and greater fervour, even perversely trying to make our marginalisation into a virtue. Actions that had once been intended as examples to others became badges of our difference from "them", that contemptible branded herd who looked straight, paid rent and had jobs. Ultraism became our excuse to become exclusive - which in the long term means you either fade away or fossilise.

This in turn created a vicious circle where working people were less and less likely to listen to us. The boom was giving them ownership of their houses and satellite dishes to hang outside of them. Why were they going to listen to a few hate-filled cranks with their bizarre obsessions about "not selling out"?




1990s - EVEN DARKER AGES

Of course the Nineties are, at least on the surface, the very reverse of this. Workers see bosses raking in greater profits than ever before while their wages fall and the threat of job insecurity grows. Today our enemies are getting away with murder - at times literally. Yet nobody’s doing anything about it! This paradox has led to many orthodox anarchos crying into their beer "but objectively the conditions are right for anarchism!" What is it we’re not seeing?

Part of the problem is that anarchists have often had an oddly ambiguous position on assaults on the working class. Many insist that attacks on wages or benefits are "good", even as they campaign against them, because they are "good for revolution". This crudely linear logic is, if anything, Leninist - suggesting working people aren’t going to revolt unless absolutely forced to.

Underneath this apparent opposition to ‘reformism’ is a failure to understand history. Job security and benefits were a concession won by previous generations of class struggle, not a clever ruse thought up by the bosses to keep us in line.

Recent years have shown us the fallacy that people will revolt when there’s "no alternative". There’s always alternatives, there’s the bottle, there’s all sorts of drugs, there’s domestic and petty violence, there’s a thousand and one ways of hiding your head and not thinking about it. People are likely to explore them all until they start to see practical positive alternatives.


ANARCHO FIXATIONS

Compounded with this is an anarcho fixation with the Left. Trade Unions, single-issue pressure groups, Trots, local democracy etc. -all were seen as enemy agents, defusing revolt. Obviously there’s a lot of truth to this, but becoming

fixated with it became very convenient for us. We could happily believe in "the working class", pure and unsullied in their endless antagonism to capital, without worrying why there hadn’t actually been a revolution yet. Oh, that was all the fault of the Left, those sellout swine! In short, we came to put the cart before the horse.

But the Left was never an intrinsic part of capital, just one tactic available to it. Nowadays there’s so little revolt to defuse they’re largely redundant. The recuperators aren’t needed on the picket lines so they’ve been shown the dole queue. This has left us pretty high and dry, in some cases even propping up social democracy in order to ritually denounce it!

There’s also been attempts to portray our own successors as Leftist recuperators! Reclaim the Streets, Critical Mass and Food Not Bombs are often slated as

‘pacifist’ or ‘single issue’. But RTS, for example, are not bombarding riotous proles with happy house music until they turn into party heads, rather they’re trying to devise ways of getting party heads out from the clubs and onto the streets.

Crucially, these groups are trying to recompose around the lower point of struggle they find themselves in. Criticisms of them which ignore this fact are useless, based on a ‘radicalism’ which is bogus and empty. Even supposing they are talking to the wrong people, are we talking to anybody?


ALIENATED NATION

But overall it’s alienation which is the key to understanding the current context. When people don’t riot or strike it doesn’t necessarily mean they’re happy in their acquiescence, it often means they just don’t see any practical means of opposing it.

As the Situationists used to argue every aspect of capitalist society conspires to portray us to ourselves as individuals, as consumers, as order-takers, as anything but active ingredients in history. The only thing to add is that capital’s got a lot more sophisticated about this than when they were first writing about it, and we’ve had nearly twenty years of the (post) Thatcherite cult of ‘individualism’ to contend with.

Anti-opencast activists from Selar recently reported a chat they had with some locals: "after a sympathetic conversation one boy, living half a mile from the eviction, said he’d watch the news the next day to catch up on events." (from ‘Autonomy, Media and Representation’, Do or Die 6). From workplace to traffic systems to telly - watch the lights and follow the path.

Of course, anarchism was readier than most political movements to encompass ideas about alienation. However, there’s often been a tendency to just add it to the shopping list, or put it on the backburner while we discussed more immediate issues. Partly this is understandable, it is easier to talk about tangible things like the thinness of wage packets or the tedium of work.

Unless you’re careful, gabbing about alienation can make you sound like some New Age crank. However, it’s arguable our prime task should be to find practical ways of circumventing this problem.



BETTER OR WORSE

Anarchism never came anywhere near its often stated aim of overthrowing capital, of course. However, while it’s almost impossible to quantify such things, it probably helped slow down the reimposition of austerity upon the British working class.


Despite its many weaknesses, it’s worth remembering that had it just been a disempowering waste of time it wouldn’t still be exerting the fascination over us that it does. At our best we grasped, more through intuition than reason, that political liberation doesn’t belong to some distant day called ‘the revolution’, that it’s a process in which we take back control of our own lives from the ‘logic’ of capital and that we can start off that process any time we come together.

More hazily we recognised that the true goal of the ‘political activist’ is not to get better at the job or learn to exert more influence - but to negate his/her own role by making such activity so widespread the label loses its meaning. At our worst, of course, we were Leftists without a bath.

But such flashes of insight rarely lingered. Eighties anarchism walked a knife-edge, forever slipping one way into pseudo-militant ultraism and another into lifestylist liberalism. It was the view from the brief periods up on that edge that kept you going, even when the troughs became longer and deeper, but the pattern never broke.




OUTGROWING SUBCULTURES

The movement was ultimately unable to outgrow either its subcultural origins or its own internal limitations and contradictions. Instead, facing hard times, it ossified into a set of rules that had to be kept so rigid because they were actually past their relevance.

In the above we’ve largely avoided talking about who’s been indulging in this fetishism of the past. To some degree or another, we’ve all been doing it. Now let’s all cut it out. Paradoxically, defusing its spell means looking hard at the real thing, in its context, in order to salvage from its remains whatever still seems workable for today. We’ve nothing to lose but our scrapbooks!



The Bash Street Kids

Orginally appeared in Smash Hits issue 3, October 1998.

(Smash Hits was a discussion bulletin that arose in the aftermath of the fragmentation/'end' of the Class War Federation in 1997).

all page from http://www.uncarved.org/music/apunk/nostalgia.html


Powered by dq

Google